Sebuah Amanah….

Ikatan Fisioterapi Indonesia yang disingkat IFI adalah organisasi yang mewadahi fisioterapis seluruh Indonesia. Sebagai sebuah organisasi profesi yang pendidikannya telah lahir sejak tahun 1956 dapat dikatakan lansia jika mengikuti usia fisiologis manusia yaitu 60 tahun.

IFI di usianya yang ke 48 tahun (lahir 10 Juni 1968) untuk sebuah organisasi profesi mungkin baru pada tatanan menuju pendewasaan. Walaupun, kematangan suatu organisasi tidak selalu dilihat dari usianya.

Sebuah organisasi menuntut insan fisioterapis yang ada didalamnya untuk membuat sebuah kesepakatan bersama menuju tujuan bersama. Setiap orang fisioterapis tentu memiliki keinginan, harapan dan tujuan masing-masing dalam dirinya yang berbeda dengan fisioterapis lainnya. Oleh karenanya dibutuhkan wadah untuk membangun kesepakatan dalam bentuk Ketetapan Kongres. Setiap insan fisioterapis di seluruh Indonesia hendaknya mengesampingkan kepentingan pribadi atau kelompoknya dengan tetap memegang teguh amanah yang merupakan kesepakatan bersama dalam sebuah ketetapan kongres.

Sebagai seorang dosen pada program S1 Fisioterapi, ingin rasanya meminta agar lulusan kami mendapatkan lisensi, namun hal tersebut dapat merusak tatanan dan tujuan pengembangan profesi fisioterapi. Sebagaimana pada pendidikan lainnya seperti dokter, perawat, farmasi, ilmu hukum dll, mendapatkan lisensinya setelah menempuh pendidikan profesi.

Ketetapan Kongres adalah sebuah amanah yang diberikan oleh Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) atas nama Fisioterapis Indonesia kepada siapapun yang terpilih sebagai pengurus Ikatan Fisioterapi Indonesia sebagai motor penggeraknya.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka Kongres Ikatan Fisioterapi Indonesia yang ke XI di Medan mengamanahkan kepada Pengurus Pusat IFI periode 2012-2016 sebagai berikut:

Keputusan Kongres Nasional ke-XI IFI (Ikatan Fisioterapi Indonesia) di Medan Juni 2012, ketetapan nomor TAP/03/KONAS XI/VI/2012, tentang Rencana Jangka Panjang Ikatan Fisioterapi Indonesia yang terdiri atas 3 Aspek yaitu :

  1. Pendidikan
  2. Pelayanan
  3. Organisasi

Uraian ketiga aspek pada Rencana Jangka Panjang IFI yang tertuang dalam ketetapan kongres tersebut sebagai berikut:

  1. Aspek Pendidikan
    a- 
    Mengupayakan Institusi pendidikan untuk mengembangkan program pendidikan fisioterapi spesialis tahun 2020.
    b- Mengupayakan institusi pendidikan untuk mengembangkan program pendidikan fisioterapi S3 untuk pengembangan ilmu.
  1. Aspek Pelayanan.
    a- 
    Mengupayakan pengembangan pelayanan spesialistik, sedikitnya 2 (dua) jenis spesialisasi fisioterapi di RS Pendidikan.
    b- Hanya menerima tenaga fisioterapi asing dengan kualifikasi serendahnya Sp-1 Fisioterapi.
    c- Setiap satu fisioterapis asing yang menyertakan pendamping 2 (dua) Fisioterapis Indonesia.
  1. Organisasi
    a- Berpartisipasi aktif dalam program kesehatan baik nasional maupun Internasional.
    b- Mengikuti liberalisasi jasa kesehatan dengan kerjasama timbal balik regional (AWP) melalui proses Request and Offer, Mutual Recognation Agreement, sampai pada menerima dan mengirim fisioterapis.
    c- Menerima dan merekomendasikan fisioterapis asing untuk proses pengajuan SIPF dengan persyaratan wajib berkolaborasi dengan institusi pendidikan untuk menjadi dosen.

Ketetapan nomor TAP/05/KONAS XI/VI/2012. menetapkan Standar Pendidikan Profesi Fisioterapi Indonesia. Ketetapan tersebut mengamanahkan pendidikan fisioterapi Indonesia mengarah kepada pendidikan profesi dan pengembangan pendidikan fisioterapi spesialis.

Ketika sebuah amanah diterima, maka sebagai penerima amanah wajib baginya untuk tetap berjalan dalam kaidah dan marwah amanah tersebut.

Dalam pandangan penulis, IFI dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab yang diberikan senantiasa mengarah pada amanah yang diberikan, antara lain :

  1. Upaya pada aspek pendidikan
    – Melalui beberapa langkah diplomasi dengan pemerintah, penguatan dukungan peraturan dan mendorong institusi pendidikan melalui fasilitasi dan rekomendasi telah melahirkan pendidikan fisioterapi pada jenjang profesi. Hal ini diharapkan menjadi inisiasi dan akselerasi pendidikan profesi fisioterapi serta membuka ruang menuju pendidikan spesialis.
    – Pengembangan pendidikan fisioterapi menuju pendidikan S3 untuk pengembangan ilmu telah di mulai melalui kerjasama beberapa institusi pendidikan fisioterapi dalam negeri dan luar negeri. IFI telah menginisiasi dan menfasilitasi kerjasama beberapa institusi pendidikan luar negeri diberbagai pertemuan. Salah satunya melalui penandatanganan memorandum of understanding dengan pendidikan dan organisasi profesi di beberapa negara. Penandatanganan tersebut telah di selenggarakan pada Musyawarah Nasional dan TITAFI 2015 di Makassar.
  1. Upaya pada aspek Pelayanan.

Lahirnya PMK 65 tahun 2015 mengarah pada lahirnya kemandirian pelayanan fisioterapi. Pada PMK 65 tersebut memberikan pemahan yang jelas antara pelayanan fisioterapi dan pelayanan rehabilitasi medik. Hal ini merupakan hal yang sesuai untuk membangun kemandirian pelayanan fisioterapi. PMK 65 sesuai amanah ketetapan kongres yang mengarahkan pelayanan fisioterapi dalam bentuk pelayanan spesialistik.

PMK 65 adalah produk hukum yang dihasilkan oleh menteri kesehatan , maka Menteri Kesehatan wajib mensosialisasikan dan merealisasikan ketetapan yang tertuang didalam PMK tersebut. Upaya-upaya sosialisasi dan realisasi isi PMK 65 dapat melibatkan stake holder yaitu fasilitas pelayanan kesehatan atau juga mitra dalam hal ini Ikatan Fisioterapi Indonesia dan Institusi Pendidikan Fisioterapi.

  1. Upaya pada aspek Organisasi.

Sebagai bagian dari amanat kongres, Kerjasama luar negeri serta partisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan fisioterapi Internasional terus di kembangkan. Menjadi bagian dari lahirnya keputusan-keputusan strategis dalam kancah regional dan internasional.

 

Demikian tulisan dalam blog pribadi ini dimaksudkan sebagai cara berbagi pemikiran konstruktif. Penulis adalah ketua bidang sertifikasi dan litbang Pengurus Pusat IFI periode 2012-2016.

Yang terpenting dari semua itu adalah kesadaran yang tinggi tentang Persaudaraan Dalam Satu Profesi tidak boleh terkalahkan oleh perbedaan sudut pandangan.