Memeriksa Scoliosis

Seperti telah diketahui bahwa scoliosis adalah kelainan rangkaian tulang belakang yaitu adanya kurva kearah lateral, dimana pada tulang belakang tkurva kearah lateral tersebut tidak ada. Terapi pada prinsipnya mulai dari konservatif yang berupa terapi latihan, Cotrell traction, brace dan operatif.

Terapi latihan merupakan salah satu bentuk terapi konservatif terutama untuk penderita Scoliosis yang mempunyai derajat kurang dari 40 derajat, sangat sulit untuk menilai keberhasilannya berhubung tolok ukur apa keberhasilan latihan tersebut.

Mobilitas/flexibiltas sendi dengan stretching daerah yang konkaf menjadi salah satu  tujuan terapi latihan sehingga salah satu keberhasilan stretching ini dapat dilihat dari adanya peningkatan ROM pasif sendi-sendi yang bersangkutan.

 

Pada pemeriksaan foto X ray sering dilakukan pemeriksaan foto lateral bending. Tujuan Pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui apakah pembengkokan yang terjadi masih flexible atau sudah rigid, atau juga melihat sejauh mana flexibilitas tulang belakang yang mengalami pembengkokan.

Dengan demikian dapat dilihat peningkatan flieksibitas sendi dengan menggunakan foto Bending X ray.

 

Temuan penting yang didapatkan dalam pemeriksaan

 

1.         Pada posisi berdiri tegak sesuai dengan perasaan tegak lurusnya sendiri yang diperiksa :

1.1.       Posture berdiri cenderung miring kearah kiri atau kanan, hal ini dapat diperiksa baik dengan mata telanjang atau dengan bantuan plumb line, apakah ada shifting kearah kiri atau kearah kanan. Biasanya diukur jarak cekungan antara pantat kiri dan kanan dengan plumb line. Selain itu juga dapat dilihat dari perbedaan jarak body – arm kiri dan kanan

1.2.       Pola kurva misalnya  C type atau S type, arah kurva misalnya kurva thorakal kanan.

1.3.       Bentuk pertumbuhan yang asimetris sisi kanan dan sisi kiri misalnya dada depan kiri lebih besar dari pada dada kanan, punggung kanan belakang lebih besar dari punggung kiri, hal ini menunjukkan adanya rotasi.dari tulang belakang.

1.4.       Ketinggian bahu yang tidak balance misalnya posisi bahu kanan lebih tinggi

1.5.       Adakah pelvic obliquity yang menandakan adanya leg discreapancy dengan melihat ketinggian SIAS dengan bantuan Water pas.

 

2.         Pemeriksaan bending

2.1.       bending kedepan secara perlahan-lahan untuk melihat :

2.1.1.      mobilitas sendi-sendi segmentasi untuk bergerak kearah flexi gerakan

2.1.2.      adanya gerakan rotasi yang mengikuti gerakan fleksi.

2.1.3.      pada posisi tertentu akan terlihat adanya hump dan dapat diukur dengan bantuan water pas.

2.2.       bending kebelakang secara perlahan-lahan.

2.2.1.      mobilitas sendi segmentasi kearah ekstensi

2.2.2.      perubahan bentuk badan, apakah ada pengurangan rotasi ikutan.

2.2.3.      adanya stifness pada segmen tertentu.

2.3.       bending kesamping kiri dan kanan

2.3.1.      pola gerakan  bending ini apakah smooth mulai dari awal sampai akhir, Gerakan ini dilihat secara keseluruhan dan juga sekmental, terutama Scoliosis type S ( double Curve) pada ujung bending dapat diukur jarak ujung jari ke lantai. 

2.3.2.      Gerakan bending kekiri dan kekanan ini bila dilihat segmental dapat dipakai menentukan mana yang lebih mobil kurva torakal atau lumbal bila scoliosis type S.

2.3.3.      perbedaan mobilitas tulang belakang pada bending kekiri atau kekanan.

2.3.4.      pemeriksaan ini dapat dilakukan pula dalam posisi prone kneeling ( merangkak) dengan gerakan ini penderita disusruh bending maksimal aktif dengan bantuan seberapa panggul kiri dan kanan yang terlihat dapat dibedakan mana yang lebih mobil gerakan kiri atau kanan.

3.         Pemeriksan  gerakan rotasi

Kelainan bentuk yang berupa HUMP adalah akibat adanya rotasi dari tulang belakang yang kemudian membawa costa ikut berrotasi pula. Arah rotasi yang terjadi adalah kearah posterior pada daerah konvek. 

3.1.       Pemeriksaan gerakan rotasi aktif

3.1.1.      Posisi dapat dilakukan dalam posisi merangkak, penderita disuruh mengangkat salah tangannya kearah lateral horizontal abduction diikuti dengan gerakan rotasi tulang belakang secara maksimal kemudian bergantian tangan yang lain. Diperhatikan pola gerakan secara segmental maupun keseluruhan.

3.2.       Pemeriksaan rotasi pasif

3.2.1.      Pemeriksaan rotasi pasif sulit dilakukan berhubung harus mengangkat berat, cara yang mudah dilakukan adal;ah penderita disuruh melakukan sendiri, dan kemudian diposisi ujung ditambah gerakan pasif. Hal ini dapat melihat secara segmental maupun keseluruhan rotasi yang terjadi.

 

4.         Pemeriksaan kekuatan otot

Pemeriksaan kekuatan otot dapat dilakukan dilakukan dengan cara side lying dengan secara segmental dan fiksasi daerah tertentu sesuai dengan kurva tulang belakang yang bengkok. Nilai otot hanya bisa dilakukan dengan membandingkan pada sisi yang lain.  

5.         Pemeriksaan X-ray.

Dari foto X ray kita dapatkan :

5.1.       Pola kurva

5.1.1.      Single atau Double curve

5.1.2.      Arah kurva misalnya Left Lumbal Right Thoracal

5.1.3.      Segmentasi kurva misalnya dari Th5-L1 right, L1 – L5 Left.

5.1.4.      Dapat dilihat long atau short curve

5.1.5.      Dapat dilihat Apex kurva misalnya Th8 Right, L3 left.

5.1.6.      Foto lateral dapat menunjukan kurva lordosis dan kyphosis.

5.2.       Rotasi dengan melihat posisi rangkaian procesus spinosus

5.3.       Melihat kedewasaan tulang ( Bone Maturation)

5.4.       Apakah tulang sudah berhenti pertumbuhan dapat dilihat dari apakah epiphysis pada krista iliaca sudah menutup atau belum.  

 

6.         Pemeriksaan foto X ray bending.

Pemeriksaan X ray bending adalah foto X-ray yang diambil dalam posisi lateral bending secara maksimal. Perbedaan derajat antara foto X-ray posisi berdiri dan bending ini adalah sebenarnya flexibilitas rangkaian tulang belakang. dilakukan baik kearah kiri maupun kanan.

 

MASALAH DAN PRINSIP LATIHAN PADA SCOLIOSIS.

 

Dari pemeriksaan diatas dapat disimpulkan masalah-masalah dan ditetapkan jenis serta tehnik latihan yang tepat untuk scoliosis yang biasanya sangat individual. Sehingga pada umumnya latihan scoliosis tidak dianjurkan dengan cara class exercise.

Permasalahan pada umumnya dan prinsip latihan adalah :

 

1.      Adanya muscle imbalance

Kekuatan otot pada daerah konkaf biasanya lebih kuat dari pada kekuatan otot pada daerah konvek,  hal ini menjadi salah satu tujuan latihan yaitu peningkatan penguatan otot daerah konvek. Namun hal ini masih harus diperiksa secara seksama dan secara segmental, terutama pada scoliosis type S.

Dengan demikian terapi latihan yang dilakukan adalah untuk meningkatkan otot yang lemah terutama daerah konvek.

Selain imbalance yang bersifat kekuatan otot, juga dijumpai adanya pemendekan otot serta soft tissue lainnya pada derah konkaf. Dengan demikian maka daerah konkaf lebih pendek daripada daerah konvek.

 

2.      Adanya kekakuan sendi

Kekakuan sendi (limitasi ROM) yang didapati adalah  bahwa side fleksi kearah konkaf akan lebih banyak dari pada side fleksi kearah konvek. Hal ini disebabkan oleh karena baik adanya pemendekan soft tissue daerah konkaf dan juga adanya bentuk masing-masing tulang belakang yang sudah menyesuaikan dengan pertumbuhan. 

Oleh  sebab itu latihan ditujukan untuk meningkatkan ROM pada daerah yang konkaf.

Kekakuan sendi juga terjadi pada gerakan rotasi,  Oleh sebab itu latihan juga ditujukan untuk mengurangi posisi rotasi tersebut.

   

3.      Kelainan Posture

Kelainan posture merupakan fenomena yang belum terpecahkan. Apakah kelainan posture ini disebabkan oleh adanya scoliosis yang secara perlahan beriteraksi terhadap propriocetion dan juga terjadi penyesuaian pada vestibular sehingga merubah perasaan lurus.

Latihan yang bertujuan untuk merubah ‘kalibrasi titik nol’ pada vestibular adalah sangat sulit. Hal ini juga yang mempersulit terapi scoliosis lainnya misalnya operasi serta pemasanang brace.

 

3 thoughts on “Memeriksa Scoliosis

  1. dhaenkpedro berkata:

    @maia : Untuk scoliosis dibutuhkan latihan yang spesifik. misalnya dengan latihan-latihan mengaktifkan otot-otot core stability dan otot-otot deep. ada banyak artikel tentang bagaimana cara melatih local/deep muscles. Jika latihan dilakukan pada otot- yang salah, maka kemungkinan akan memperbesar derajat scoliosisnya karena otot-otot yang membentuk lengkukngan pada tulang belakang tersebut cenderung lebih responsif terhadap gerakan dibandingkan deep muscle yang saya maksudkan tadi. Untuk itu diperlukan latihan khusus mengaktifkan otot-otot local/deep muscle tersebut. Beberapa gerakan yang pernah saya lihat pada pilates cukup membenatu mengaktifkan otot tersebut. tks

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s